Ekspedisi H3 – Kemping di Pantai

18/7/18

Malam itu Ceca tidur di ujung kasur aku di tengah dan Anja di pinggir. Kak Lala udah nggak tahan sama aksi tiban-tibanan pas tidur lagi- jadi untuk malam ini kak Lala tidur di spring bed bawah bersama Andini dan Ratri.

Sebagai manusia yang kekurangan tidur, memilih spot yang tengah bukan pilihan yang paling bijak. Bangun-bangun sekitar jam 1:00 aku menemukan diriku dipeluk oleh Anja sambil ngorok– wkwkwkk-

Lama-lama tanpa peringatan Ceca juga ikutan group hug nya juga. Hadoehh.. Ini berdua kira aku guling ya shshshh-

Walaupun jadi agak kurang nyaman, aku masih berhasil tidur sampai pagi.

Sewaktu buka mata lagi, semuanya di kamar masih komplit dan nenyak tidurnya. Aku tidak bisa membedakan apakah sudah pagi dan waktunya bangun karena lampu diluar kamar terangnya selalu sama. Tapi kedengerannya dari orang-orang diluar yang sudah ramai keliatannya kami harus segera bangun juga.

Satu persatu semua di regu kami mulai bangun termasuk kak Lala. Hari ini adalah hari terakhir kami semua di Mess BKSDA Pulau Untung Jawa.. Destinasi selanjutnya adalah pulau Pramuka dimana kita akan berangkat naik kapal Sanus seperti kemarin, lanjut dari pulau Pramuka ke pulau Karya untuk kempiiiingggg!

Tanpa berfikir dua kali aku langsung refleks mandi walaupun tadi malam sudah. Aku masih merasa di rumah, mandi dua kali sehari ๐Ÿ˜…

Waktu Katya bersinar

“Wah wahh.. Mandi lagi trishaaa” Tata bilang sewaktu aku keluar kamar dengan rambut fresh masih basah. Aku lihat semuanya lagi pada ngumpul di depan mengelilingi Kak Opal seperti lagi ada sesi sebuah pelajaran.

Ternyata, semuanya lagi belaja bagaimana jadi R e t d j e h yang baiq-

Ohh.. Kalau ada seseorang yang aku tau paling suka becanda-becandaan receh semacam ini yaitu Katya-.Teman-temans Oase yang lain juga ikut mengikuti dengan senang.

Kak Opal master nya juga ternyata, baru pertama juga aku tau wkwkk.. Mereka terus-terusan bercanda dengan aku sebagai background sound ketawa cekikikan, sampai yang lain masih dikamar sudah siap untuk makan pagi.

“Tau nggak, kenapa namanya receh?”

Kak Lala kemudian menjelaskan kepadaku alasan mengapa becanda plesetan ini namanya receh dalam perjalanan kita ke tempat makan shshsh..
Karena candaan ini tidak semua orang menemukannya lucu, makanya murah kualitasnya jadi dipanggil receh ๐Ÿ˜‚

Lucu karena ini pertama kali aku tau shshhs- gimana sih…

Kembali perjuangan ke Pelabuhan

Ini kemungkinan akan menjadi makan enak dan komplit kita terakhir selama 2 hari kedepan, karena habis ini kami akan kemping dan masak menu makanan kita sendiri.

Setelah semua sudah kenyang, kami kembali ke kamar untuk bawa tas carrier masing-masing. Punyaku berasa lebih ringan daripada yang kemarin, karena aku keluarkan tas sepatu boots dan memutuskan untuk dibawa tangan saja. Spacenya nggak cukup untuk memasukan barang lagi- nggak tau gimana Papaku bisa masukan semua barang-barangnya kedalam sekaligus.

Tapi beratnya masih minta ampun- kita mengambil jalan yang sama seperti kemarin pas cari narasumber untuk di wawancara ke pelabuhan. Perjalanannya sekitar 15 menit tapi serasanya ber jam-jam dengan beban tas di belakangku-

“Duduuuukkkk!!”
Akhirnya dengan nafas lega kita sampai juga di pelabuhan.

Playground

Kami istirahat di pendopo sana, pundaku rasanya tegang-tegang habis menurunkan tas yang sangat berat. Tapi setelah beberapa menit normal kembali.

Ternyata kapalnya belum datang jadi mumpung masih disini kita menghabiskan waktu dengan ngobrol-ngobrol sambil tunggu kapal Sanus datang untuk menjeput kita.

Ada jembatan yang dinamakan Rainbow bridge padahal tidak ada warna-warna pelangi- mungkin karena bentuknya jadi dinamakan itu.

Kreatifitas anak Oase tidak pernah terbatas, jadi lama-lama teman-temans yang laki bosen dan ingin mencari sesuatu yang lebih asyik untuk dilakukan. Dan Rainbow bridge ini jawabannya.

Di Rainbow bridge ada perbatasan antara dua tangga, dan satu persatu mereka naik ke paling atas tangga dan membuat perbatasan itu menjadi sebuah perosotan seperti di taman bermain… Ampuuunn ๐Ÿคฃ

Melihat yang lain menikmati playground baru yang tidak sengaja mereka buat membuat aku juga pingin coba, tapi karena bawahnya kotor dan cukup banyak batu-batu kerikil takut kotor celanaku.

Sayang kalo udah kotor-kotor sekarang hehe..
Merosot kebawah dan mendaratnya juga membutuhkan kewaspadaan dan seimbang yang bagus, jadi kalo nggak hati-hati bisa berbahaya jatuh di tempat yang kita tidak inginkan.

Setelah sekitar 1 jam, kapal kita datang! Sempat di PHPin juga sebelumnya kalau udah nunggu, ehh.. Ternyata belum dateng wkwk

Aku kembali bawa tasku dan berbaris sesuai regu masing-masing untuk antri masuk kapal. Kami juga sempat ketemu sama salah satu teman PKBM yang main sama kita kemarin ๐Ÿ˜„ sedih harus pergi sekarang, tapi setidaknya bisa say a proper goodbye.

Kak Lala mengumpulkan ID card kita untuk identitas supaya bisa naik kapal, dalamnya masih sama seperti pas kita berangkat kecuali jumlah penumpangnya (pasti-) kami semua langsung reflek turun kebawah kapal dimana ada tempat tidur tingkat supaya bisa lebih santai untuk berbaring.

Pusying solusinya tidur

Kali ini regu laki dan perempuan semuanya berinisiatif ke barisan tempat tidur pojok, yang kemarin regu-regunya terpisah sekarang jadi sama-samaaa.

Selama perjalanan di paling atas tempat tidur tingkat ada rombongan yang bermain Truth or Dare selama perjalanan dan ada juga yang memilih permainan lebih tenang seperti bermain kartu. Sementara, aku tidur hampir selama setengah perjalanan karena arus ombak yang besar pagi ini.

Nggak tau kenapa tapi tiba-tiba kepalaku terasa pusing dan seperti ingin muntah, padahal pas berangkat ke P. Untung Jawa tenang-tenang aja. Memang kapalnya goyang-goyang lebih banyak kali ini, jadi aku bikin tidur saja biar hilang rasa maboknya.

Tidak cuma aku yang merasakannya ternyata, lama-lama keramaian di kapal disebabkan oleh Oase pelan-pelan menenang juga dan semuanya tidur berjejeran di atas bunk bed. Aku tidak melihat suasananya karena sudah lelap tidur tapi memikirkan saja… anak-anak remaja pramuka tidur sama-sama berjejeran lucu juga ๐Ÿ˜…

Pulau Pramuka!

Ting tong
Pengumuman kami sampai di Pulau Pramuka! Dengan muka bantal habis ngiler–aku dibangunkan oleh suara yang lain.

Pas kita mau keluar dari kapal, ternyata ada mentor baru yang akan menemani kita selama perjalanan ke pulau-pulau! Yaitu kak Melli ๐Ÿ˜„ sebelumnya belum pernah ketemu tapi keliatannya sekian yang lain sudah pernah ekspedisi bersama beliau.

Laut P. Pramuka jerniiihhh sekali… Aku sangat terkejud bisa sampai melihat dengan jelas ke bawah air. Karang-karang dan bulu babi pun bisa dilihat dengan crystal clear dari jembatan.

Kelihatannya tempat ini dirawat cukup baik.

Mumpung sudah jam 12 lewat kami istirahat di masjid dekat tempat kita turun di pulau, sekalian sholat juga. Ada beberapa anak-anak pramuka juga yang mungkin akan melakukan aktifitas di sekitar sini, mereka memandang kita yang kecapekan membawa tas-tas besar seperti habis hiking dari gunung-

Kami juga berkenalan dulu dong sama kak Melli sebelum lanjut cari makanan. Jumlah mentor yang diperlukan adalah 5 dan karena kak Lala harus pulang duluan keesokan harinya akan kurang jadi akan diganti oleh kak Melli.

Di P. Pramuka kita cuma sekedar lewat saja. Makan siang dan cari perlengkapan bahan-bahan makanan untuk masak kemudian di P. Pramuka. Kami semua dikasih waktu sampai jam 1:30 dari jam 12:45 untuk melengkapi bahan makanan yang belum dibeli.

Kak Shanty info kalau ada yang jualan ikan dan telur di belokan kiri jalan dari masjid, jadi regu kami diskusi siapa yang akan pergi untuk beli bahan-bahannya.

Mie tek-teknya mana?

Ratri dan Anja memutuskan untuk sama-sama cek tempatnya. Sementara Ceca, aku dan Andini lihat-lihat warung untuk beli makan siang.

Karena aku tidak di sediakan uang oleh Mama Papaku jadi harus bergantung dengan uang regu Dublob ๐Ÿ˜…
Jumlah yang ku bawa hanya 20.000 rp dan itu yang dikasih oleh kak Shanty untuk ongkos balik ke rumah dan setidaknya receh-recehan yang telah kusimpan selama nggak tau berapa lama di dompetku-

Ratri kemudian balik bersama Anja dan memesankan makanan kita. Aku titip Mie tek tek kepada Ratri dan langsung cari tempat duduk untuk bersama.

“Wah.. penuh ya”

Ternyata tempat duduknya sudah diambil dengan orang lain, mejanya masih ada yang kosong tapi. Untungnya ada bapak-bapak diujung yang selesai ngobrol dan mempersilahksn kita untuk ambil kursinya ๐Ÿ˜„

Regu yang lain kemudian juga kumpul bersama di meja yang kami dan sudah mendapatkan makanan masing-masing karena pesannya yang bisa langsung di ambil seperti di rumah makan padang. Sementara aku pilih dari menu.

Aku tunggu sampai beberapa menit tapi belum datang juga mienya, kami harus cepat-cepat kumpul kembali karena mau berangkat ke destinasi selanjutnya.

Semua kecuali aku dan Alev belum dapat pesanan kita.
15 menit berlalu dan ibunya yang menyerahkan makanan kepada kita akhirnya kasih pesanan Alev tapi aku belum.
“Sudah semua yaa..”
Ibunya berkata kepada kami.
Dengan refleks aku langsung tanya tentang mie ku, dan ternyata sampai sekarang belum dibuat jugaaa-

Huwaahhh.. Kok bisa? Mungkin lupa ibunya? Atau pesanan tidak terdengar olehnya? Ini mungkin tes kesabaran bagiku wkwk- tapi dimaklumi saja.

Yang lain sudah jalan lagi dan mie ku baru datang, Ceca dengan baik hati menemaniku sampai selesai makan. Dengan cepat aku menghabiskan mie nya.

Jangan diceritain!

Sambil menunggu Ratri dan Anja beli bahan makanan, yang nganggur jagain tas bersama kak Opal dan kak Ali. Kak Ali sedang berbaring dibawah tanah sambil nonton semacam film musikal jepang? Hampir dikira K-pop wkwk- satu-satunya yang sedang menikmati gadgetnya karena kita peserta ekspedisi tidak diperbolehkan untuk membawanya.

“Trisha, kakak belum di update nih soal tendang-tendangan sama Ceca malam ini”

Kak Opal bilang sambil dikit godain Ceca.
“Ohh iya ya kak, kemarin Ceca sempat ngigo lohh..”
Tanganku langsung di cengkram nggak mau untuk aku menceritakan lebih jauh sama Ceca-
Tapi aku ceritakan saja kepada semuanya–
Lalu, terjadi sebuah kerusuhan-
“Hahahaaa.. Jangan lupa ditulis di jurnal ya”
Kak Opal respon.
Siap kak, mumpung aku sedang pegang buku logbook ku langsung di tulis poin yang itu.
“Iiihhhh jangan trishaaa!”
Ceca langsung coba untuk menggapai bukuku. Huwahh terjadi deh kejar-kejaran mendapatkan buku- lalu Fattah yang penasaran pingin liat apa yang ditulis jadi aku kasih dengan Ceca masih coba untuk mengambilnya wkwkwkk-
Ampuni aku ya Ce-
Lama-lama Ceca pasrah saja dan kerusuhan mulai tenang.

Perahu ke Pulau Karya!

Sehabis semua regu sudah komplit, kami menuju ke dermaga untuk naik perahu menuju ke Pulau Karya! Pulaunya sangat dekat bahkan bisa dilihat dengan jelas dari sini. Yang aku ingin kunjungi juga adalah pulau yang berada di sebelah P. Karya. Kelihatannya seperti bangunan restoran? Kalau lagi tanggal liburan pasti ramai sekali, dan karena pulau itu nampaknya lumayan kecil jadi bangunannya seperti benar-benar menguasai tanah. Jadi satu pulau itu seperti buat restoran saja hue-

Kami satu sama lain bantu untuk menumpang tas dan barang-barang sesama ke perahu. Supaya bisa lihat pemandangan kedepan lebih jelas aku memilih untuk duduk di sisi depan kapal bersama Kak Opal, Syauqi, Hibban dan Fattah. Sementara reguku semua di sisi belakang.

Aku menikmati angin yang sejuk dan pemandangan laut yang jernih dan bersih selama perjalanan ke pulau, untuku naik perahu adalah salah satu hal yang paling berkesan selama perjalanan ini.
Masuk ke daerah pulau kita semua diturunkan oleh kapal, habis itu setiap orang dikasih life vest oleh kak Shanty karena rencananya adalah untuk berenang, buat keselamatan lebih baik semuanya memilikinya.

Saat jalan kearah base camp kami melihat beberapa orang yang sedang snorkeling di area laut dangkal sini, ada sekitar 4 orang 1 sedang beraktifitas dan 3 nya lagi di darat tapi masih berpakaian baju renang, keliatannya asyik juga ๐Ÿ˜„

Sewaktu sampai ternyata tempat base campnya bukan seperti yang ku ekspetasi, ternyata tempatnya adalah lapangan sepak bola yang tanahnya berpasir, dikelilingi oleh pohon-pohon tinggi dan besar. Tempatnya nyaman dan segar jadi tidak ada kurang-kurangnya. Yang saya pikir kami kemping persis di pinggir pantai wkwk- tapi memang, dari sini bisa lihat banyak pemandangan lautan.

Bangung Tenda di lapangan

Mulailah setiap regu membangun tenda masing-masing. Rat-tree, pinru kita tersayang dan paling suka membantu mengeluarkan tendanya dan mulai dibangun sama-sama.

Ada 4 sisi di base camp lapangan kita, regu Dublob memilih sisi yang kiri atas untuk tendanya dengan regu Putri Doyoung yang memilih sisi kanan. Yeeyyy, tetanggaan ๐Ÿฑ

Sementara regu Anjing laut di sisi kanan bawah dan Garam laut di sisi kiri, dan pintunya menghadap ke tengah.
Tenda mentor nyelip diantara Regu Dublob dan Garam Laut.

Selesai tendanya tinggal memperbaiki sedikit-sedikit sana-sini, Andini mulai merasa gabut jadi dia melirik ke arah tenda tetangga…
Ternyaga Katya ke gabutan juga sama jadi dia mulai bikin semacam ‘proteksi’ untuk tenda regunya seperti di spongebob dengan ranting besar dan menggabar lingkaran di pasir sekeliling tendanya.

Kesenian Pohon Pinus

Andini juga memutuskan untuk melakukan yang sama tapi dengan ide yang berbeda. Di tanah ada banyak pohon pinus yang tersebar di pasir base camp, bentuknya seperti durian kecil yang persis penampilannya seperti yang menyakiti kita kalo diinjak karena tidak memakai sepatu pas di Pulau Rambut.

Dari pada keinjak, Andini mengumpulkan pinus-pinus kecil dan menjejerkan satu sama lain melingkari tenda kami sebagai ‘proteksi’ ๐Ÿ˜‚

Kreatif juga naks paling muda dalam peserta eksplorasi. Dedikasi dan kesabarannya juga sangat tinggi karena ukuran pinus kecil sementara tendanya besar perlu waktu yang lama untuk menjejerkannya semuaaa..

Tapi itu tidak masalah bagi Andini karena dengan ke gabutannya dia niat untuk menyelasaikan proteksinya, lama-lama aku juga membantu karena nggak ngapa-ngapain juga ๐Ÿ˜…

Tenda yang Ratri bawa kapasitasnya untuk 5 orang, pas untuk regu kita. Tapi kalau begitu nanti malah sempit-sempitan kalau semua tas dan barang-barang di masuka ke satu tenda kita-

Kebetulan regu Anjing laut membawa tenda barang! Dan mereka tidak keberatan untuk bagi space buat tas carrier regu kami yang besar-besar, termasuk aku. Yaaayyy kita diselamtkan!

Krispy Nasi Liwet

Waktunya untuk sibuk, setiap regu mengeluarkan kompor dan alat-alat masak lain untuk buat makan malam, regu kami merencanakan dari awal diskusi ekspedisi untuk masak nasi liwet! Wahh pasti lezatnya luar biasa kalau yang buat adalah kedua master chef kita Anja dan Ceca ๐Ÿ‘
Selama memunggu karena aku orang yang paling kurang membantu di reguku–.. Bersama Andini kita iseng-iseng coba bikin tulisan ‘Dublob disamping tenda kita pakai pohon pinus yang sama. cause why not โ•ฎ(โ€ฒ๏ฝžโ€ตใ€ž)โ•ญ

Anja masih tetap stand by masak nasi liwet, padahal sudah sekitar 30 menit dan belum matang-matang juga. Katanya masih ada sisi yang keras berasnya jadi masih harus ditunggu sampai lebih halus.

Mungkin karena ada faktor? Dicampur oleh nasinya Ceca yang katanya anti air? Bukannya beras seharusnya nggak tahan air supaya bisa di masak– apapun itu, satu jam telah lewat dan kami masih menunggu untuk nasinya matang.

“Ratri bawa kompor gas berapa?”
Anja bertanya.
Ratri cek dan mukanya terkejut seperti telah menyadari sesuatu…Ternyata jumlah kompor gas yang dibawa hanya satu! Dan itu yang sedang dipakai untuk masak nasi liwet.

Wahhh gimana ya?- tinggal setengah juga gasnya jadi sekali lagi masak setelah itu tidak bisa masak lagi sampai hari jumat. Ratri langsung mengalami mental breakdown dia cerita masih ada dua lagi gas yang dibeli untuk masak kemping tapi lupa dibawa.

“There there it’s okay, this is not your fault”
Tata yang bersama kita coba untuk menghibur Ratri, kami berharap mudah-mudahan masih ada regu atau mentor yang bisa membagi gasnya. Mulailah kita bicarakan solusinya.
Anja langsung mematikan kompor untuk menghemat gas yang masih kita punya untuk makan pagi besok. Karena nasinya belum sepenuhnya matang kita panggil menu masakannya “Nasi liwet krispy” karena kalau dimakan ada bagian yang keras jadi pas dikunyah jadi krispyyyy~

Selain itu rasanya tetap toppp! ๐Ÿ‘Œ๐Ÿ‘Œ๐Ÿ‘Œ

Nggak tau pada main Benteng

Kotak makan ku masih bekas habis menumpang makanan dari Mess jadi biar lebih enak aku pergi ke kamar mandi untuk mencucinya. Pas mau balik lagi ke tenda tiba-tiba Andini muncul mau cuci lunch boxnya juga dan minta untuk ditemani.

Ada sedikit kesusahan juga pas mencuci lunch boxnya yaitu karena yang dimiliki Andini itu semacam tempat makan lipat jadi di sisi-sisi yang terlipat masih ada bekas-bekas yang harus dibersihkan, kita sedikit susah payah untuk membukanya tapi akhirnya pas dicoba pakai lutut untuk mendorongnya buka berhasiiilll!

Karena kelamaan di kamar mandi kita tidak sadar ternyata semuanya pada main benteng di lapangan! Wahh.. Keliatannya udah heboh kesana-sini jadi aku nonton saja dari tenda karena lapar sabil makan nasi liwet bersama Andini walaupun belum waktunya untuk makan malam. ๐Ÿ˜„

Menikmati kegelapan

Langit mulai gelap dan senter-senter mulai nyala. Kami dikasih tau oleh kak Shanty bahwa listrik nanti sedikit di daerah sini jadi tidak akan banyak lampu, siap-siap untuk gelap-gelapan.

Tapi kenyataanya ternyata masih ada perumahan-perumahan yang menyediakan lampu jadi tidak sepenuhnya gelap ๐Ÿ˜€

Ini juga tidak diduga oleh mentor kami jadi syukur masih dapat cahaya hue..
Setiap regu sudah selesai masakan-masakannya termasuk kami dengan nasi liwet krispyyyy, karena kita tidak punya waktu dan gas yang cukup untuk bikin lauk jadi kita makan dengan kentang krispiku yang sudah dimakan setengah semalam di Mess berama aku dan Andini ๐Ÿ˜…
Anak-anak kelaparan pada jam 12 malam-

Balik-balik dari toilet kotak kentangku tiba-tiba sudah habiiisss dihabiskan semua. Aku senang karena banyak yang suka hihi..

Udara malam sangat sejuuuk, dan bintang-bintang dilangit mulai keluar. Aaahh… it feels so magical aku menghirup nafas sambil melihat ke atas langit.

Semua regu berkumpul di matras depan tenda kami sambil ditambahkan lagi matras supaya cukup buat semua orang dan mengumpulkan makanan ditengah untuk dinikmati setiap orang.

Kakak-kakak mentor sedang bakar-bakar ikan disamping jadi kehangatan api unggunnya terasa dengan kedinginannya udara malam.
Half cold half hot
Felt like Todoroki for a moment-

Anak-anak oase kan baiq-baiq semuaaaa :’D jadi malam itu kita berbagi makanan-makanan kita! Ada yang buat Sop jagung, bahkan bawa rendang uenaakkk… Tapi karena aku sudah makan nasi sebelumnya jadi cuma tes-tes rasa saja ๐Ÿ˜…

Walaupun mulai hari ini kegiatan-kegiatan di pulau sudah bebas kita masih ada aturannya, mulailah refleksi malam bersama kakak mentor dan kesempatan orangtua untuk telpon ke terakhir kalinya. :’D

Pas mama dan papaku telpon, balik lagi dengan suara ‘guk guk’ di balik hape.. Eehhh ternyata sepupuku Nadine yang juga ikutan telpon bersama Mama dan Papaku hahahaa! Emang suka iseng yaww
Katanya biar bingung trishanya-

Setelah selesai telpon aku balik mendengarkan refleksi dengan Kak Lala. Ada beberapa hal yang harus kita ingat selama kemping disini
Misalnya:

– Kalau mau meninggalkan base camp harus kasih tau ke mentor lebih dahulu

– Setelah itu kalau mau ke kamar mandi ditemani terus dengan teman yang lain terutama bila malam hari. Dll
Untuk alasan keselamatan itu aturannya.

Setelah itu kami diskusi tentang membuat logbook dan hal-hal yang paling berkesan hari ini. Kak Melli ternyata spesialis logbook dan jurnal! Jadi beliau akan cek setiap logbook anak-anak yang telah kami buat selama 3 hari perjalanan ini dan di e v a l u a s i.

Huuuu… Aku sedikit gugup pas mendengar kafa evaluasi- karena sejujurnya bukuku adalah yang paling berantakan dari semuanya. Jadi first thing in the morning aku harus langsung memperbaiki logbook ku yang aku merasa kurang puas.

Udara malam mulai dingin dan mataku yang tadinya masih segar jadi berat. Waktunya kita tidur semua tapi masih ada yang masih ingin main..

Jadi Kaysan memutuskan kita semua untuk main Werewolves.
Aku lupa lupa ingat aturan permainannya karena terakhir main sudah cukup lama.
Lalu setelah permainan di mulai aku sedikit-sedikit ngerti juga.
Tidak lama semua memutuskan untuk istirahat, aku masuk kedalam tenda bersama Anja, Andini dan Ceca..

Ramai di Tenda-

Ehh tiba-tiba, yang tadi katanya ngantuk malah jadi ngobrol soal “suka cowo siapa” didalam tenda Dublob wkwkkwk.. Ratri katanya pingin coba tidur di luar bersama Michelle dan Katya, ada beberapa orang dari regu laki juga tapi aku tidak bisa identifikasi siapa- cuma dengar suara-suaranya saja dari dalam tenda.

Susaaahhh banget tidur, kita bersama-sama malah cekikikan sampai ketawa terbahak-bahak soal godain ‘suka sama siapa’- ya.. Bisa dibilang Casual girls talk dan terutama Andini… Ya ampunn, tubuhnya yang mungil mempunyai suara yang sangat besar juga ya.

“Ssssttt… Jangan keras-keras”
Ratri mengingatkan kita dari luar

“Ahh udah udah.. yuk kita tidur”
Kami saling mengajak tapi masih tetap nggak berhenti cekikikan. Akhirnya dengan usaha kami berhasil untuk tidur juga.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s