Ekspedisi H2 – Mengelilingi Keindahan

17/7/18

Malam pertama di Mess ternyata bukan se tenang yang aku pikirkan, inilah.. Chapter pertama dari aksi tendang-tendangan di regu Dublob- aku istirahat di kasur bersama Ceca dan kak Lala yang sudah tidur dengan nyenyak, tapi entah kenapa aku belum ngantuk jadi masih melek selama beberapa menit.

Ceca itu… Mmmm.. sangat mudah kalau ketiduran- tutup mata sebentar saja sudah seperti hilang semua kesadarannya apa lagi habis ber aktifitas berat seharian hari ini, pasti kebanyakan juga merasa seperti ini.

Pas kita semua baru berbaring untuk istirahat masih tenang-tenang saja, sampai tiba-tiba.. Kakinya Ceca meniban perutku–

Wwkkwkk.. Aku coba untuk mengangkatnya tapi takut malah bangun nanti, jadi ku biarkan saja.
Ehh lama-lama tanganya juga ikutan nimban leherku— Aduhhhh.. Kaget banget pas rasanya ada yang berat di muka.

Ini bukan yang pertama, sebelumnya di ‘Kemping Ceria’ hal yang mirip juga terjadi sewaktu tidur di tenda regu kita waktu itu, aku jadi korban shshshhsh- :”’)
Jadi sudah cukup terbiasa~

Kembali ke Pulau Rambuttt

Hari kedua datang seperti sekejap mata, aku kurang bisa membedakan apakah sudah pagi atau masih malam dari dalam kamar yang gelap ke arah jendela. Lampunya masih terang dan suara-suara dari luar juga mulai terdengar

Wah.. Udah waktunya bangun ya-
Malam itu aku tidak merasa tidur sama sekali, karena melek bangun melek bangun yang berulang-ulang-
Tapi mengetahuia kita akan balik beraktifitas yang asyik hari ini aku langsung bangun dari tempat tidurku.

Kak Lala ternyata pindah dari original spot tidurnya… Yang tadinya di ujung sekarang di matras bawah.
Matahari belum terbit jadi kita sholat subuh berjamaah setelah itu siap-siap balik ke Pulau Rambut!
Aku yang tadinya bilang cuma mau basah-basahin badan supaya lebih segar malah jadi mandi komplit sampai keramas- padahal udah mandi malam kemarin. Ada juga yang belum mandi seharisn dari hari pertama berangkat wkwkwk–

Aku bawa makan pagi yang disediakan kedalam kotak makan yaitu nasi goreng. Mumpung masih banyak juga dan sayang kalau nggak dimakan mendingan buat bekal saja~

Sebuah Tragedi

Ada kejadian yang tidak diduga akan terjadi, pas lagi makan tiba-tiba semuanya ketawa terbahak-bahak melihat ke arah Fakhri… Ternyata botol minumnya menyusut jadi keciiiilll! Ya ampun… Aku juga kaget bisa kayak gitu- ada dua botol minum yang Fakhri bawa, satunya buat air dan satunya lagi di isi dengan teh panas.

Material botol minumnya mungkin kurang bagus jadi tidak bisa tahan minum yang panas-panas, jadi begitulah bentuknya jadi seperti meleleh. 😂

Kapal yang kemarin mengantar kita ke Pulau Rambut balik untuk menjeput kita lagi, kami di fasilitasi oleh life vest tapi ada satu dari regu Anjing laut yang memilih untuk tidak memakainya… Fattah. Kebetulan regu kami dan Anjing laut berangkat bersamaan lagi seperti kemarin, katanya soalnya udah bisa berenang jadi tidak apa-apa–.

Putri Doyoung dan Garam Laut naik perahu duluan menuju Pulau Rambut, sementera kami sisanya menunggu dijemput sambil foto-foto. Mulai dari sini aku selalu duduk didepan perahu soalnya menurutku lebih ekstrim dan mengasyikan.

Sampai di pulau, kali ini sedikit lebih berbeda tempat di dropnya, kita geser dikit dari dermaga dan di turunkan di tepi pantai. Memang jadi lebih gampang dan tidak repot keluar dari perahu sekarang hehe..

Untuk ke tempat kumpul kemarin kita harus masuk kedalam pepohonan dan ranting-ranting untuk kesana, agak sedih melihat sampah berceceran di pasir sana-sini tapi itulah salah satu tugas kami hari ini untuk menyusur pantai. 😄

Karena masih pagi, kakak-kakak mentor bilang untuk tunggu airnya lebih surut sebelum mulai aktifitas pertama. Jadi sambil menunggu semuanya langsung main dan ciprat-cipratan di dalam air laut.

“Ehh.. Jangan basah-basah yaa”
Suara kak Shanty terdengar

Sepertinya peringatan itu tidak di dengar oleh banyak orang dan pada akhirnya semuanya mulai basah-basahan kesana kesini.
Aku bermain di tepi pantai saja dengan ombak-ombak sambil menjaga bajuku supaya nggak kena basah terlalu banyak.

Kakak-kakak mentor juga mengajak kita untuk foto sebentar di dermaga. Dengan cahaya pagi yang pas untuk foto2, kami peserta eksplorasi kumpul bersama dan berpose-pose di depan kamera.

J ♡  Michelle

Tiba-tiba aku melihat Michelle sedang menulis sesuatu di pasir dengan ranting besar dan cukup tebal, huruf pertama adalah ‘J’ dan dilanjutkan dengan ‘hati’ setelah itu Michelle. Tanpa harus berfikir lama kau sudah tau ‘J’ itu nama depannya siapa…
Jungkook wkwkwkkwkk…
Cintanya kepada golden maknae BTS ini tidak terhingga 😂

Saat itu kami semua main di tepi laut sambil anak-anak laki yang lain asyik-asyik lompat dari dermaga dan nyebur ke laut
“YEEEEEE!!!”
Satu persatu.. Semuanya mulai berani untuk mencoba lompat, Ali salah satu yang paling ekstrim… Dia sampai coba nge flip lompat dari dermaga! Mungkin hal seperti itu sudah biasa dilakukan olehnya, pemberani sekaliiiii

Aku cek shell collection ku dan untungnya masih ada. Ternyata aku memilih batu yang cukup tinggi dan tepat untuk menaruh kerang-kerang cantik ini, jadi tidak akan terbawa arus laut kalau ombaknya sedang besar.

Setelah sekitar satu jam lewat, kami semua dipanggil untuk menyusur atau mengelilingi pulau. Katanya tidak usah bawa terlalu banyak barang jadi aku ambil botol minumku yang ternyata tinggal setengah airnya dan meninggalkan tas. Mulailah perjalanan basah-basahan kita-

Jangan. Basah. Sepatu Boots.

Awalnya aku pikir jalan-jalan ini akan berlalu dengan cepat tapi waahhh.. Sama sekali tidak. Kami jalan di pinggir pulau yang rutenya banyak berairrr, yang aku pikir sepatu boots akan melindungi kakiku dari basah ehh lama-lama jadi keisi banyak air.

Pada akhirnya aku pasrah saja dengan sepatu boots yang terisi dengan air. Jalannya terasa lebih squishy tapi tidak mengganggu sekali.
Dalam rombongan kita aku ingat pada waktu itu aku jalan di barisan paling belakang, sementara yang lain sudah duluan menemukan berbagai macam binatang atau tanaman laut yang unik. Mungkin karena mataku fokus mencari kerang kesana-sini yang bisa dibawa untuk shell collection di meeting point jadi lebih pelan jalannya.

“Ayo trisha”
Panggilan itu diulang-ulang terus sama Ceca kepadaku,
“Nanti ketinggalan loh”

“Iya iyaa”
Sementara mataku masih terpaku melihat kebawah mencari kerang-kerang–
Lama-lama kita keluar dari tutupan pepohonan dan jalan ke padang lamun dimana yang lain sudah berkumpul melingkar. Sepertinya ada yang menemukan sesuatu menarik…

Perlahan aku mendekat dan di tengah salah satu pendamping kita sedang memetik yang kelihatannya seperti telur ikan berwarna hijau… Ternyata namanya anggur laut.

Aku ditawarkan untuk mencoba tapi masih sedikit ragu-ragu. Lalu di dengar yang lain menyukainya, jadi aku percaya dan makan satu petik bola kecil.

Pas dimasukan kedalam mulut dan dikunyah bulatannya seperti meletus di dalam mulutku, namun rasanya oke-okelah dengan rasa asin sedikit. Mungkin karena baru dari air laut jadi masih membekas di buahnya? Hue-

Kami melanjutkan perjalanan kita, Ratri sangat baik hati dia menawarkan untuk bawa botol minumku kedalam tasnya supaya nggak repot-repot bawa dengan tangan ♡♡♡ unchhh..
Di samping ku ada Syauqi yang berbeda sekali mengambil jalannya denganku.

Dia memilih untuk jalan kedalam air dan membasahi kakinya daripada mengambil jalan lebih aman yaitu di darat. Aku asyik aja melihatnya..

Mengelilingi Keindahan

Dalam perjalanan kita juga menemukan berbagai macam binatang laut seperti Timun Laut yang penampilannya seperti lintah perlu diet- warnanya hitam dan jika disentuh permukaannya rasanya seperti main dengan squishy dan juga agak berlendir-

Uhhh.. Memang sedikit jijik pas pertama melihatnya tapi lama-lama cukup ketagihan juga nyentuh-nyentuhnya wkwkw-
DON’T TOUCH DA CHILD

Lalu Syauqi juga menemukan Bintang Laut dengan kaki-kaki panjang dan berduri. Dia ambil saja dengan tangannya seperti eksplorer sejati yang tidak takut dengan apa-apa. Disebelahnya, aku mengamati saja Bintang Lautnya bergerak-gerak coba untuk lepas dari pegangan tangannya Syauqi.

Matahari semakin terik dan kami semua masih jalan, jalan dan berjalan lagi… Kaos kakiku udah basah kuyup dan aku harus melepas sepatu boots beberapa kali untuk mengeluarkan air yang di tampungnya. Jalannya kebanyakan berair semua dan yang dangkal kita bisa lihat anemon yang tertanam di dalam. Kalau di pegang rasanya seperti squishy versi tanaman laut, dan itu juga banyak tersebar di sisi laut dangkal pulau rambut.

Lama-lama jempol kakiku terasa seperti di tusuk-tusuk lebih banyak aku bergerak dengan kaki. Apakah lecet? Atau terluka?.. Entah kenapa pas istirahat duduk di batang besar tidak ada yang luka atau perlu diobati- biasa saja. Karena rasa pegal yang luar biasa aku memilih untuk istirahat lebih lama sementara yang lain duluan jalan lagi. Ceca juga menemaniku dengan mentor setia kami Kak Opal 😀

Walaupun rasa kecapekan aku masih berusaha untuk menikmati pemandangan dan suasana indahnya pulau, di tengah perjalanan Kak Opal menunjukan beberapa binatang laut eksotis yang aku belum pernah liat sebelumnya dan bisa dibilang tidak mengira ada makhluk semacam ini juga.

Banyak yang sembunyi di karang-karang jadi dengan stick panjang, Kak Opal mencoba untuk menyingkirkannya. Dan ternyata dibawahnya ada semacam binatang yang seperti ulat tapi lebih gendut dengan corak unik berwarna ungu dan kaki-kaki seperti gurita-? Uuhh..
Sejujurnya agak susah untuk dideskripsikan dengan detail tapi bisa dibilang penampilannya seperti monster laut kecil-

Kak Opal tidak tau namanya jadi kita amati saja setiap pergerakannya. Ada beberapa yang kita temukan di area situ juga.

“Istirahaaatttt!!”
Aku jalan ke arah pantai kecil dengan pincang dan duduk di atas pasir sambil buang nafas lega-
Kakiku udah nggak tahan jalan lebih jauh tapi karena kami harus balik ke meeting point sebelumnya tidak ada banyak pilihan tapi untuk lanjut-
Ceca kemudian menemukan kepiting kecil di dalam air dan berusaha untuk menangkapnya
“Nih ini! Pake botol minum!”
Aku menghabiskan air di botol minumku supaya bisa dipakai untuk menangkap kepitingnya, sayangnya ia terlalu cepat bergerak dan kemudian menghilang dari pandangan kita. Tidak apa-apa, lebih baik hidup dengan bebas ^w^

Kaysan dan Tata sedang asyik lempar batu kerikil ke air dan cari tau siapa yang paling banyak memantul batunya jika di lempar ke permukaan air. Kaysan berhasil mencapai rekor 5 kali! Awalnya aku kira bercanda aja tapi bas di praktekan lagi ternyata benaarr..

Setelah istirahat mengumpulkan energi dan bermain sebentar kami lanjut lagi perjalanannya, sewaktu melewati pantai yang banyak sampah di semak-semak kami menemukan balon Nemo yang masih ada heliumnya dan utuh. Wahh punya siapa ini ya? Lucu karena kelihatannya belum terlalu lama terperangkap di semak-semak ini.
Ceca langsung mengambilnya dan bawa jalan, estetik banget balon sama bajunya juga wkwkwkk.. Udah seperti tourist abiiisss..

Akhirnya setelah susah payah membawa kakiku untuk jalan di kejauhan aku melihat batu-batuan mirip seperti yang dilihat pas sampai di antar oleh perahu. Yeeeyyy! meeting point nya sudah dekat! Semangatku langsung naik untuk cepat-cepat sampai biar bisa istirahat. Akhirnyaaaa sampai juga 😀

Takut melepaskan ikan-

Semuanya langsung tuang air yang ditumpangi sepatu boots selama perjalanan dan mengeringkan kaos kaki masing-masing dengan dijemur atas batu-batuan persegi.

Rasanya lega bangetttt… Kakiku bisa bernafas lagi setelah ditenggelamkan kedalam boots dipenuhi air–
Aku duduk dan mengeluarkan kotak makan yang diisi nasi goreng dari makan pagi di mess, disebelahku ada Alev dan Kaysan yang sedang rusuh bersama dengan botol minumnya yang bisa nyemprot air seperti selang wkwkw- mereka semprot ke mulut masing-masing, ngakak melihat mereka kalo berdua 😂

“Ihhh trisha bawa nasi goreng”

“Minta doongg”
Pas Kaysan minta aku sudah menghabiskan nasi gorengnya semua- #eehh

Ada yang menawarkan kacang juga, guriiihhh rasanya lumayan buat ngeganjel perut yang laper 😀

Di sebelah kiri pantai terdapat Kak Ali sedang bakar-bakar ikan bersama Ali- juga– hasil ikan yang ditangkap dalam sungai perjalanan kita keliling pantai akan menjadi buat makan siang kita. Apinya sedang di siapkan sementara ikan-ikan yang dikumpulkan dalam tas dikeluarkan untuk di pukul-p u k u l pakai batang biar uh.. mati—
Huuu.. Memang sadis melihatnya :”
Dan lebih sadis lagi karena yang melakukannya uh- Andini-

Aku melihat Fakhri, Tata sama Ali mengumpulkan ranting besar dan kecil untuk apinya. Ternyata masih ada satu ikan yang masih kecil dan kata Kak Ali kasihan kalau di buat makanan sekarang jadi kita lepaskan. Aku yang ditugaskan untuk melepaskannya tapi belum berani megang ikan sebesar itu ehee- jadi dibantu lah sama Andini 😅

Mengubur teman = True friendship

Tiba-tiba di sisi lainnya pantai teman-teman oase sedang syibuk bersama-sama menguburkan Kaysan sama Alev ke dalam pasir wkwkwkwkk- jangan khawatir badannya aja kok dengan seluruh tubuhnya menjadi tumpukan pasir-

Terinspirasi dengan idenya yang tadi bantu-bantu dikit untuk bakar ikan jadi ikutan numpuk-numpukin pasir buat kedua manusia ini shshshshhh.. Kami semua ketawa terbahak-bahak sementara Alev dan Kaysan ketiduran dengan tumpukan pasir di tubuhnya hahahahaa!

Lama kelamaan Alev bangun juga dari beauty rest nya di dalam selimut pasir dan tanpa kasih tau langsung mengeluarkan diri dari kuburannya, sementara Kaysan masih di alam mimpi kami main-main saja dengan kuburan pasirnya-

Air laut yang tadinya bersih dan jernih tiba-tiba di serang oleh plastik dan berbagai macam sampah- aku juga bingung datangnya dari mana karena pada pagi hari aman-aman saja kok air lautnya. Karena itu yang udah nggak sabar mau loncat-loncat lagi dari dermaga di minta untuk tunggu agak siangan biar airnya nggak kotor.

Tajamnya Pinus

Waktunya makan siang! Kami semua dipanggil untuk kumpul di sebuah halaman rumah kecil dan ambil nasi dan lauk sepuasnya.
Sewaktu antri ambil makanan masing-masing, tiba-tiba terjadi sebuah tragedi- makanan Kaysan tidak sengaja tersenggol dan jatuh berceceran. Untungnya belum ambil terlalu banyak makanannya jadi tidak terbuang.
Hati-hati kay wkwk-

Baru saja ketemu tempat duduk untuk makan aku ingat botol minumku masih di tas tempat tasku yang di taruh atas meja yang harus jalan beberapa meter untuk mengambilnya-
Sekalian ada air untuk refil botol minumku aku segera mengambilnya. Tata juga minta tolong untuk mengambil botol minumnya yang masih ada di dalam tasnya.

Nahh.. Karena mager untuk pakai sepatu sandalku aku memilih untuk jalan nyeker ambilnya. Sedikit ku ketahui, ternyata di permukaan rumput-rumpur ada banyak pohon pinus yang terebar kemana-mana. Jadi langkah pertama tanpa alas kaki rasanya seperti ditusuk oleh jarum-jarum kecil–

“Ow, ow, ow, Oowww…”
Aku berusaha sekeras mungkin supaya tidak menginjak pinus kecil yang tajam-tajam, tapi masih saja terinjak- jadi aku pelan-pelan melangkah supaya tidak kesakitan.
Akhirnya aku sampai balik ke tempat makan dengan kedua botol minum dan menikmati makan siang hari ini.

“Ayo, katya… Makan sayurrr”
Ujar Kak Opal

“Udah udah kak, tadi aku makan tomat satu”
Katya bilang entah itu benar atau tidak 😂

“Aahhh kuranggg”
Kak Opal jawab sambil nambahin tomat ke piring yang sudah kosong makannya dihabiskan Katya wkwkwkk-

Katya memang bukan tipe orang yang suka makan sayur. Sebelumnya aku juga seperti itu tapi tiba-tiba setelah ‘melatih’ diriku sendiri untuk makan lebih banyak sayur di Pra-ekspedisi, aku jadi lebih suka makan timun, selada dan tomat dengan makananku.
Memang bisa ganti ya selera orang 😀

Terpaksa, Katya makan potongan tomat yang dikasih Kak Opal.

Setelah makan siang acara kita bebas jadi semua berkeliaran main kesana-sini di pantai. Ada yang tidur-tiduran di fly sheet(?) (namanya apa tempat tidur-tiduran yang digantung di pohon ampun-) dan ada juga yang nyoba untuk naik salah satu perahu yang parkir di sebelah jembatan dermaga. Aku coba menaikinya juga sambil mengamati ikan-ikan kecil yang bikin formasi-formasi indah dibawah laut. Lama-lama kami semua coba iseng menggoyangkan kapal ke kiri dan ke kanan seperti menaiki sesuatu di dufan

“Eeehh ehhh stoppp! Jangan terlalu miring!!”
Sambil ada yang memperingatkan jika terlalu banyak gerak perahunya.

Tiba-tiba Andini dipanggil oleh kakak-kakak mentor.

“Bagaimana Andini, apakah kita harus bantu membersihkan pantai?”
Sebagai penjaga zero waste Andini diberi pilihan apakah kita semua bisa membersihkan sampah dari pantai atau tidak.

“Uuhhh…”
“Gimana?”
“UUHHHH…”
Andini agak sedikit ragu-ragu untuk menjawab, mungkin karena berada di tengah-tengah ‘ah aku masih mau main’ dan ‘nggak enak nih kalo nggak di bersihkan’.

Tapi dengan muka dan atmosphere para mentor kami, tanpa kata-kata dari mereka Andini juga setuju untuk membersihkan pantai sebentar.
Pada akhirnya semua yang sedang istirahat langsung kerja keras mencari sampah kesana sini untuk dikumpulkan.

Ada berbagai macam sampah yang tersebar apa itu di pasir, tanah maupun di laut.. Pada waktu itu aku merasa tidak cukup membantu di tugas mencari sampah- lebih ke yang megang plastik sebagai tempat sampah.
Cause I’m trash-//slapped

Tetapi sampah yang paling jelas terlihat adalah styrofoam. Banyaaakkk sekali potongan-potongannya di tanah seperti itu sudah termasuk sebagai ‘tanaman’ yang tumbuh di permukaan–
Untuk membersihkannya semua dalam jangka waktu sedikit akan susah atau bisa dibilang tidak mungkin- tapi setidaknya, effort yang kami punya untuk membersihkan lingkungan sudah ada dan itu menunjukan bahwa kita peduli 😀

Harta Karun???

Sebagian besar anak-anak balik dari sisi pantai yang lain dan menemukan banyak sampah seperti bungkus makanan dan beling-beling. Tapi yang kami temukan menarik adalah toples biskuit kaleng yang tertutup rapat tetapi pas di goyang-goyang masih ada isinya!
Apa ya ini??? Semuanya langsung berkumpul untuk coba membukanya. Apakah masih ada biskuit dialamnya? Atau sesuatu yang lain? Aku berangan-angan sendiri semangat untuk mengetahui.

Membukanya dengan tangan polos susah jadi pakai stick bamboo panjang Kak Opal berusaha untuk membukanya.
Kleng!
Tidak lama, toplesnya terbuka dan semuanya langsung cek ada apa didalamnya.

Ternyata ada…. Kertas!

Huwahh! Apa ya ini??Apakah ini surat dari tempat yang jauh? Surat cinta? Surat tentang sebuah rahasia? Atau peta yang akan menunjukan kita ke sebuah tempat banyak harta karun??? (Wkwkwkk- aku berimajinasi terlalu jauh-)
Eehhh ternyata pas dekeluarkan, cuma bungkus kertas nasi biasa shshshshhsh- 🤣
Kok bisa gitu ya- siapa yang masukin bungkus kertas nasi kedalam toples biskuit terus ditutup dengan rapat-

Sebelum di resmiksn selesai kegiatan bersih-bersih pantai kami semua foto dulu bersama dengan ‘sampah’ yang telah kami kumpulkan.

“Oke sekarang tunjuk sampahnya!”
Tipikal anak oase langsung nunjuk ke teman-teman sesama daripada karung plastik yang di isi dengan sampah pantai sambil difoto-

Waktunya hampir jam 2 siang, yang tadi udah greget pingin loncat dari jembatan lagi sudah diperbolehkan. Sementara aku coba tiduran di flysheet(?) di antara dua pohon, enak juga ya ternyata.

“Trisha, trisha!”
Ada suara yang memanggil namaku

“Dipanggil sama Kak Shanty!”
Ternyata itu Kaysan yang langsung bergagas ke arah ku sedang istirahat, aku langsung cepat-cepat bangun tapi juga dengan rasa sedikit tidak meyakinkan…

Ada apa Kak Shanty memanggil ku? Bila memang ada sesuatu yang penting aku tidak melihat Kak Shanty dimana-mana–
Langsung aku mengetahui.. Kaysan cuma bercanda supaya bisa mengambil tempat flysheet nya, dimana aku berbaring shshshsh-
Sewaktu dia siap-siap mau merebut aku cepat-cepat berbaring lagi supaya tidak diambil wkwkw-

Aku tidak tertipu kali iniii.. Tapi setelah beberapa menit aku menawarkan Kaysan untuk gantian berbaring di flysheet, aku anaknya baik kan?-//plok

Anime.

Setelah itu gengs yang tidak ingin berenang dan basah-basahan berkumpul di tempat makan siang tadi.
Tiba-tiba terjadi sebuah perkumpulan para weeboo dan otaku- Fattah, Katya, Tre dan aku berempat ngobrol-ngobrol tentang My Hero Academia untuk menghabiskan detik-detik terakhir di pulau rambut. Sementara ada yang memilih untuk daydreaming di atas flysheet dan loncat-loncat dari jembatan.
Awalnya aku juga penasaran seperti apa rasanya berenang di laut sini tapi tanggung bajuku baru kering dari basah keliling pulau tadi, jadi aku memutuskan untuk santai di daratan saja-

“Who’s your favorite character?”

“Jokingly, m I n E t A-“

“Mineta likes throwing balls from his head”

“B a L L s-“

“Oof- not in that way–“

Setelah bercakap tentang anime selama beberapa menit, Kak Shanty kemudian memanggil kita untuk balik ke Pulau Untung Jawa. Tetapi mentor yang ikut hanya Kak Opal dan Kak Lala karena masih ada yang lain ingin berasyik-asyik berenang lebih lama.
Jadi anak-anak yang sudah kering dari tadi duluan melambaikan tangan kepada yang sedang asyik di dermaga.

Inilah hari terakhir kami eksplorasi dan berkegiatan di Pulau Rambut.

Balik ke P. Untung Jawa. Mencari Narasumber

Setelah mengambil barang dan life vest masing-masing, kami naik ojek kapal yang mengantar kita sebelumnya dan menuju ke P. Untung Jawa.. Seperti biasa, aku duduk didepan lagi (wkwkwk- udah berulang kali cerita ini kek bangga banget 😅)

“If I were Todoroki he would freeze the ice and we could just slide to the next island”

“And Bakugo! Just blasting himself off!”
Sekali lagi aku dan Fattah berimajinasi dengan karakter-karakter My Hero Academia sama kekuatannya. Nggak usah pake kapal lagi kalau bisa membekukan laut seperti Todoroki shshshhs-

Sampai di Pulau Rambut aku langsung bergagas ke kamar Dublob supaya bisa dapat giliran pertama mandi wkwkw-
Langsung capek mau istirahat setelah itu. Tapi ingat-ingat bahwa kita masih punya tugas wawancara lagi jadi aku harus simpan rasa kecapekan itu untuk nanti malam.

Di kamar Dublob sepiiii.. Hampir semua regu perempuan berkumpul di kamar regu sebelah. Jadi aku keluar dan ketok pintunya untuk cek ada siapa saja sih.. Waahh ternyata kamarnya sudah diisi dengan obrol-obrolan kpop dan segala macam topik yang lain, rasanya seperti berkumpul di secret base perempuan shshshh-
Jadi aku ikutan saja sambil berbaring-baring di tempat tidur kamar sebelah.

“Hayyooo jam berapa mau wawancara?”

“Aahh lima menit lagi deh”

Hahaa melihat semuanya sudah jelas setiap orang tepar dari kegiatan-kegiatan kita sebelumnya di Pulau Rambut. Jadi lima menit istirahat berubah jadi 30 menit lalu 40 menit.
Awalnya aku mau coba cari narasumber sendiri di area sekitar mess tapi cara approach kepada penduduk disini masih bingung cara yang baik bagaimana-
Pada akhirnya, aku tunggu yang lain untuk cari narasumber bersama-sama.

Akhirnya setelah ngobrol panjang lebar semuanya berhasil untuk mengumpulkan nyawa dan untuk wawancara. Ratri, Katya, Adinda, Michelle dan aku bergerak sebagai grup dan mulai meninggalkan mess untuk jalan-jalan di pulau. Aku kira pingin cari orang untuk diwawancara sekitar daerah penginapan kita saja, tapi kurang asyik kalau cuman disini-sini. 😄

Jalan-jalan di Pulau

“Kita mau kemana nih?”
“Nggak tau… Pokoknya jalan aja”
Kami tidak punya destinasi yang tepat sewaktu kita jalan, pokoknya niatnya untuk jalan-jalan di daerah pulau saja.. Welp.. Time to get lost~ 😅

Kita menuju ke Jl. Bougenvile(?) dimana ada banyak perumahan dan warung-warung dengan penduduk sekitarnya. Anak-anak sekolah bermain kesana-sini, naik sepeda, lari-larian, sama pegadang-pegadang jalan mau ke arah kita atau pun sebaliknya. Rasanya bukan seperti di kota lagi-

Awalnya aku rasa sedikit malu dengan sweater yang warnanya pink ngejreng-.. Soalnya yang lain pakai baju hitam atau abu-abu aku menjadi paling dominan untuk dikira bukan warga sekitar. Tapi tidak masalah, jalan dengan biasa saja walaupun di liatin banyak orang shshhshsh-

Kita liat-liat ke arah pelabuhan sampai menemukan sign yang ditulis Pantai Sakura(?) kami semua tertarik dan ingin lihat seperti apa itu pantainya. Katanya ada banyak pohon sakura dengan bunga-bunganya, tapi lokasinya masih jauh kedepan sana, mungkin bisa sampai 30 menit lebih kalau jalan.
Jadi kita sepakat untuk tidak jalan jauh-jauh.

“Ehh.. Gimana kalo kita wawancara anak-anak saja?”
Kata Ratri

“Kan mungkin bisa lebih gampang daripada orang dewasa”

Kami berhenti dulu dan menoleh ke arah anak-anak yang sedang asyik naik sepeda dan bermain bersama.
“Yaudah cobain aja” Kita seru Ratri.

“… Ah tapi gimana yaw?”

Akhirnya, kita duduk di tempat dukuk pinggir jalan dan diskusi tentang membuat skenario.. Katanya biar nggak terlalu ‘terintimidasi’ sebaiknya salah satu dari kita aja yang memperkenalkan diri untuk wawancara, yaitu Ratri. 👌

“Oke, kalian duduk disini ya.. Anggap aja kita sama-sama nggak kenal”
Ratri bilang

“Good luck Rattt!!!”

Lalu Ratri tarik nafas panjang dan mulai mendekati anak-anak tersebut. Kita amati saja dari jauh bagaimana Ratri mempraktekan keahliannya dalam bicara sama anak-anak yang belum dikenal. Jago juga terus terang kalo dari jauh wkwk-

Tidak mau ketinggalan nunggu di pinggir saja, aku sendiri mulai cari narasumber yang berbeda. Di warung pinggir jalan ada ibu-ibu yang kelihatannya sedang tidaj sibuk, aku pikir cara enak untuk mulai sebuah konversasi adalah dengan membeli sesuatu dari warungnya tersebut dulu, terus baru nanya-nanya tentang hal-hal yang lain.. Tapi karena aku lupa bawa uang jadi tidak ada pilihan lain tapi untuk langsung approach

JUST DO IT

“Permisi ibu.. Saya dari komunitas pramuka lagi ekspedisi di P. Untung Jawa, ada tugas untuk wawancara penduduk
sekitar… Boleh saya tanya-tanya sebentar?”

(Kurang lebih gitulah ngomongnya wkwk-)

Aku terus terang saja kepada ibunya, beliau mengangguk tanda tidak keberatan sambil mulai menyapu halaman rumahnya. Lalu aku coba mulai wawancaranya.

Ibunya namanya Ibu Maryani, dia tinggal di P. Untung Jawa selama 6 tahun sekarang jualan di warung tersebut, keluarga juga tinggal bersama-sama, suami dan anak-anaknya. Jadi deket teruslah uwu)

Selama wawancara.. Aku tidak merasa ibu Maryani begitu tertarik untuk ngobrol-ngobril saat itu. Mungkin karena lagi nggak mood? atau capek? Apa saja alasannya itu, atmosphere nya berbeda dengan waktu wawancara di kapal bersama Pak Robio.. Dia sangat tertarik dengan homeschooling dan ekspedisi kita sampai dia yang lebih banyak tanya-tanya tentang kita daripada aku.

Bisa juga karena lagi sibuk nyapu.. Jadi nggak papa lah. Setelah aku pikir informasi yang diperlukan sudah cukup aku permisi ibunya dan bergabung dengan yang lain lagi.

Teman-teman baru!

“Wahh, ada apa ini?”
Tiba-tiba Ratri, Michelle, Katya dan Adinda semuanya dikelilingi oleh banyak anak-anak kecil yang sepertinya sudah akrab banget bersama mereka. 😀

Ternyata, mereka adalah anak-anak PKBM kemarin yang sedang ngaji di kelas sewaktu kami berkunjung sambil istirahat sebentar.
Nampaknya, mereka sudah mengetahui tentang kedatangan kami dan pingin kenalan sama kita sejak datang ke P. Untung Jawa.
Huwahh.. Terima kasih kepada Ratri yang telah mengumpulkan effort untuk berkenalan sama mereka. Sekarang mereka baik hati untuk menunjukan atau jadi tour guide kami keliling sekitar P. Untung Jawa yeeeeeyyyy!!

Aku coba untuk bicara sama salah satu naksnya dan bertemu Alka! Dia tipenya cukup kalem jadi pas karena menurutku aku juga punya banyak sisi di dirirku yang bisa di bilang kalem juga wkwkwk-
Walaupun begitu, cerita-ceritanya luaarrr biasa baanyyaakkk! Kami mulai jalan bersama berjejeran dengan teman-teman baru kita sambil bercerita supaya lebih kenal tentang sesama lebih baik.
Aku dibelakang Ratri yang sudah di kroyok sama banyak anak-anak sementara aku berduaan saja sama Alka.

Kami menuju ke pelabuhan dan duduk di ujung jembatan sambil ngobrol-ngobrol.. Aku cerita tentang kegiatan-kegiatan ekspedisi di P. Untung Jawa dan di P. Rambut, setelah itu kami akan ke P. Pramuka juga besok dll.. Alka juga pernah ke P. Rambut tapi cuman sekali, beberapa bulan yang lalu pernah mengikuti lomba gambar di P. Pramuka dari sekolahnya. Wah banyak banget deh jalan-jalan antar pulaunya.

Dia juga punya artis favorit yaitu Naura Neona, Michelle kebetulan juga sukaaaa.. Sayangnya aku nggak tanya lagu kesukaannya apa saja 😅

Alka tinggal bersama Kakek dan Neneknya. Bapak ibunya tinggal di Tangerang banten karena menjadi pendiri Yayasan Albuboroh, lebih spesifik bapaknya.

Kemudian belum juga sampai lima menit semuanya sudah berdiri dan melanjutkan perjalanannya, aku juga nggak tau mau kemana tapi selama ada tour guide cilik-cilik kami jadi tidak usah khawatir hehe..

Lalu tanpa diketahui Alka dan aku tiba-tiba terpisah dengan gengnya Ratri, Michelle, Katya dan Adinda.. Mereka jalannya sangat cepat kamk tidak sadar bahwa kita sudah ketinggalan, mulailah satu-satu jalan dalam grup lebih kecil. Ada yang bertiga atau berempat tali aku hanya sama Alka.

Kami melewati lapangan sepak bola yang besar menuju ke hutan Mangroove, dia mau tunjukin tempat kempingnya dulu bersama teman-teman di sekolahnya. Camping ground nya kelihatan sangat lembab karena di penuhi dengan genangan-genangan air, tapi ternyata masih bisa kemping juga ya..

Alka juga cerita kalau dia ingin belajar fotografi tetapi tidak di izinkan oleh bapaknya, alasannya juga belum jelas. Namun hobinya main dokter-dokteran dan cita-citanya… Sudah bisa dijawab- yaity menjadi dokter.

Langit sudah mulai sore dan aku tidak tau apakah kami jalan mendekati Mess atau malah menjauh- aku berharap saja Alka tau jalan pintas menuju ke Mess tapi aku bilang ingin balik dulu supaya bisa ngobrol lebih lama.

“Alkaaaa!”
Ada suara dari belakang kami yang memanggil nama Alka.. Ohh ternyata salah satu teman dekatnya juga. Dia naik sepeda menuju ke arah kita dan nanya sedang mau kemana. Lalu kami bertiga jalan kedalam hutan mangroove bersama.

Suasana yang ramai tiba-tiba menjadi sepi… Di dalam hutan ternyata tidak ada orang selain kita. Ooohh agak serem tapi rasa paling dominan adalah lama-lama atmosphere di antara kami bertiga mulai sedikit awkward karena aku mulai kehabisan pertanyaan dan topik konversasi–

Hutannya sunyi… Tidak ada suara sama sekali tetapi kami tetap berjalan. Kalau liburan hutan mangroove ini biasanya ramai karena di lewati oleh banyak wisatawan. Tapi karena hari ini hari sekolah jadi tidak ada.

Alka beri tau kalau dari sini ada jalan dekat memuju ke mess, haahh.. aku bersyukur sekali kita tidak usah balik arah dan jalan yang jauh lagi shshsshh-
Akhirnya kami keluar dari hutan dan area yang familiar mulai muncul… Itu dia tepat penginapan kita! Kesunyiannya langsung dipecah dengan suara-suara anak oase yang sudah berkumpul di depan mess.

Bowo 2.0–

Ternyata Michelle dan Adinda sedang berkumpul dengan anak-anak yang aku temui tadi, mereka sedang meperkenalkan setiap anak oase dengan menulis semua namanya dalam kertas sambil nunjuk-nunjuk ke arah orang-orang berbeda menanyakan “yang itu siapa?” “ini siapa?”

Tidak lama kemudian, keramaian sesungguhnya datang.. Ratri.. kembali ke mess dengan orang-orang yang buaanyaaakkk sekali, seperti army atau rombongan mau demo wkwkw-
Ehh iya, salah satu dari teman-teman baru Ratri juga nge fans sama BTS. Jadi iya bisa army dalam dua arti ahue-.
Semuanya berbeda umurnya, ada yang besar dan kecil, SD dan SMP semuanya berkumpul di depan mess kami. Tapi kenapa kok ingin sekali untuk berkunjung sampai penginapan sini? Ternyata.. Salah satu alasannya adalah karena mereka ingin bertemu sama F a k h r i.

Huwaahh.. Seperti kedatangan artis dari luar negeri semuanya nunggu di depan untuk melihat Fakhri, kami semua mulai ketawa ngakak dan karena nggak tahan lagi, anak-anak yang laki mulai rusuh memanggil Fakhri untuk keluar dari kamarnya yang sebenarnya sedang tidur nyenyak- 🤣

“Ayo Fakhri! Ada fans fans mu lohhh~”
Terlihat capek dan kebingungan Fakhri keluar dan melihat orang-orang di sekitarnya loncat-loncat seneng nggak jelas–

“Iiihhh Fakhri pasti dikira Bowo!”

“AHAHAHHAA IYA IYA BOWOOOO”
Dan disitulah nama panggilan Bowo kepada Fakhri itu dilahirkan-
Pokoknya, sore itu rusuhnya minta ampun.. Kami semua ketawa terbahak-bahak nggak bisa ditahan, banyak yang terjadi di P. Untung Jawa hari ini-

Akhrinya setelah gila-gila tentang Fakhri/Bowo mulai tenang sebagian besar dari anak-anak yang datang pulang ke rumah masing-masing, tetapi masih ada beberapa dari mereka yang ingin disini sebentar.
Kami tanya apakah mereka tidak dicari oleh keluarga atau orangtua? Kan sudah malam. Tapi mereka bilang sudah minta izin untuk main keluar rumah lebih lama jadi tidak perlu khawatir..

Walau aku merasa ada sesuatu yang tidak pas…

Makan malam

Waktunya untuk makan malam
Michelle menawarkan anak-anak yang masih bersama kita untuk ikutan makan juga, tapi mereka masih sedikit malu, aku juga berusaha menawarkan supaya mereka terima tapi katanya sudah kenyang, jadi akhirnya kami kasih saja buah-buahan sebagai cemilan.

Setelah makan malam aku balik ke mess untuk mengembalikan kotak makananku dimana tiba-tiba ada kejadian yang kami tidak duga, ternyata.. Orangtuanya salah satu anak yang bersama kami sedang mencari mereka, sambil mengasih tau yang sedang berada di mess untuk mendisiplinkan anaknya lebih baik. Ia naik motor dan kelihatannya seperti seorang Ustad, dengan dua anak di depan dan di belakangnya. Aku hanya melihat sekilas karena setelah itu motornya langsung pergi dari mess dengan meninggalkan suasana yang sedikit tidak nyaman.

Kami bingung juga, karena mereka bilang sudah kasih tau orangtuanya bahwa tidak apa-apa untuk pulang lebih malam. Tetapi rupanya itu bukan kenyataannya.

Kami semua belajar cara menghadapi situasi semacam ini, tidak ada yang salah, hanya sedikit miss understanding atau kesalah pahaman.

Sebelum istirahat kami refleksi tentang kegiatan dan kejadian-kejadian hari ini sama berbagi tentang pengalam yang paling mengesankan. Besok kami semua akan pindah lagi ke pulau yang berbeda jadi semua langsung cepat istirahat.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s